Rabu, 26 November 2008

Biofuel (II)

Masih artikel yang disadur dari majalah Intisari edisi Juli 2008:

INDONESIA KAYA SUMBER BIOFUEL

Sumber etanol di tiap negara berbeda-beda, tergantung sumber daya alam yang melimpah. Di Brazil dan tetangga kita Thailand, etanol dibuat dari molase (tetes tebu). Di Amerika Serikat, etanol dibuat dari jagung. Di Eropa, etanol dibuat dari gandum atau bit.

Di Indonesia, selama ini etanol untuk keperluan industri dibuat dari molase. Tapi itu tidak berarti program bioetanol nanti akan tergantung sepenuhnya pada tebu. Untuk urusan yang satu ini, Indonesia bisa dibilang sebagai negara yang kaya sumber etanol. Pokoknya semua yang mengandung pati dan gula bisa dipakai. Pati bisa difermentasi menjadi gula, lalu gula difermentasi lebih lanjut menjadi etanol.

Indonesia punya banyak sekali tanaman penghasil tepung (pati-patian). Tapi dari sekian banyak itu, menurut Unggul, singkong dan sorgum (jagung cantel) dnilai paling layak secara ekonomi untuk dipakai sebagai sumber bioetanol dalam program BBN. Sementara dari daftar tanaman penghasil gula (nira), kita punya tebu, aren, siwalan, dan sorgum manis (batangnya).

Dari deretan penghasil biodiesel, kita punya kelapa sawit, kelapa, jarak pagar, dan algae. Termasuk dalam kategori ini adalah minyak jelantah. Pendek kata, dalam urusan bahan bakar nabati Indonesia adalah negara kaya raya.

Jika program BBN benar-benar dilaksanakan, pemerintah bisa menciptakan lapangan kerja, terutama di bidang pertanian, memperkecil tingkat polusi udara, sekaligus mengatasi krisis energi.

BAHAN BAKAR NABATI (BBN) LEBIH RAMAH LINGKUNGAN

Jika dicampur dengan bensin, etanol bisa meningkatkan nilai oktan. Biasanya peningkat oktan konvensional yang dipakai adalah tetraethyl lead (TEL). Tapi TEL punya kekurangan karena senyawa ini menjadi sumber pencemaran timbal (Pb) di udara. Etanol tidak demikian karena ia bisa terurai. Dengan alasan ini, BBN juga bisa ikut mengurangi tingkat polusi udara.

Sebagai peningkat oktan, etanol membuat mesin lebih bertenaga. Sebagai pengganti bensin, etanol mengurangi emisi karbon monoksida (CO) dari knalpot. Asanya pun lebih bersih dari pada asap pembakaran Premium. Penyebabnya tak lain karena etanol (C2H5OH) lebih kaya oksigen daripada rantai hidrokarbon bensin. Tiap satu molekul etanol mengandung satu atom oksigen. Sehingga, pembakaran (reaksi antara karbon dan oksigen) menjadi lebih sempurna.

"KILANG MINYAK" SKALA RUMAHAN

Teknologi BBN termasuk teknologi yang sederhana. Masyarakat luas bisa ikut ambil bagian dalam progam BBN secara mandiri. Tanpa perlu menunggu Pertamina menyediakan Biopertamax atau Biosolar di semua SPBU.

Hal ini sudah dibuktikan di banyak tempat di Indonesia. Di Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, masyarakat setempat mengembangkan industri rumahan yang memproduksi bioetanol dari nira aren. Biasanya nira aren ini dipakai untuk membuat minuman keras.

Mereka menjalankan industri skala kecil ini dengan peralatan sederhana. Rata-rata satu pohon aren menghasilkan  12-18 liter sehari, yang setelah difermentasi dan disuling menghasilkan etanol sekitar 1 liter. Dengan kata lain, satu pohon aren bisa menghasilkan 1 liter etanol sehari. Etanol produksi sendiri ini kemudian dipakai untuk kendaraan pemerintah kabupaten setempat. Alhilal Hamid mencatat, industri rumahan seperti ini juga telah dilakukan di beberapa kabupaten di Indonesia. Semuanya terbukti menguntungkan.

Tidak ada komentar: